Seperti biasanya hari Senin dikelasku selalu ada mata
pelajaran yang sangat memusingkan, apalagi kalau bukan bahasa indonesia.
Pelajaran yang sangat aku benci dan teman-teman satu kelas. Yang
berminat untuk mempelajarinya pun mungkin hanya satu atau dua orang
saja. Bu Indah adalah guru bahasa indonesia kelas 3 yang terkenal dengan
sadis, galak ,kejam, protetif, ketat, disiplin semua aspek guru tegas
ada pada beliau. Seperti biasanya jika kami ulangan harus wajib menurut
apa kata beliau. Bu indah sering mengatur tempat duduk jika saat ulangan
tiba, seperti saat ini pula. Bagaimana aku tidak shok kaget mendadak
aku harus duduk satu bangku didepan meja guru dengan Tama!
Sudah sekitar setengah tahun ini aku tidak bertegur sapa dengannya, lebih jelasnya ketika dia memutuskan hubungan kami sepihak dan entah mengapa dia tak menjelaskan permasalahan diantara kami. Jujur aku masih sangat menyayanginya dan masih selalu memperhatikan dia. Kadang aku pernah berpikir apakah mungkin dia memutuskan hubungan gara-gara Kak Dika, dia senior kami di Osis lebih tepatnya dia menjadi Ketua bagian Bendahara Osis dan aku menjabat sebagai wakilnya. Otomatis aku sering bertemu dan bersosial dengan Kak Dika nah semenjak itulah sikap Tama mulai berubah dengan ku. Memang hanya beberapa orang saja yang mengetahui hubungan kami, mungkin hanya teman dekat ku dan teman dekatnya saja. Meskipun juga ada guru yang mengetahuinya. Mengapa aku masih menyayanginya? Dia begitu perhatian dan penyayang mungkin diantara teman satu kelas kami tak ada yang tau jika dibalik sifat cuek dan pendiamnya dia memiliki sosok mengayomi pada pasangannya. Bahkan aku bahagia saat dia memanggil namaku dengan sebutan unik, ‘Bawel’ yang inilah sebutannya padaku. Percaya atau tidak aku sangat menyukainya akupun mempunyai sebutan khusus juga untuknya! ‘Bodoh’ tidak tau kenapa aku juga suka jika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Sebaliknya, dia tak marah sama sekali aku memanggilnya dengan sebutan itu.
Namun sejak saat itulah sikapnya mulai berubah. Dia juga ikut dalam anggota Osis maka dari itu dia mulai mencari perhatian dengan kakak-kakak kelas kami cewek bahkan teman satu kelas kamipun jadi obyek pelampiasan dia. Mungkin karena alasan itulah dia memutuskan ku secara sepihak. ‘Cemburu’ memang sangat perlu dalam sebuah hubugan namun tidak dengan cara seperti ini dia harus memutuskan sesuatu tanpa permisi sebelumnya. Ini masalah hati bukan hanya sekedar candaan. Dia memang tampan banyak temanku, kakak kelas maupun adik kelas yang mengaguminya namun karena sifat dominannya dia yang cuek dan pendiam dia tak menggubris cewek yang mencoba dekat dengannya. Aku juga pernah diberi tahu Siska dia teman sebangku aku kalau Tama pernah berpacaran dengan kakak kelas entah siapa aku tak terlalu memikirkannya. Jujur aku terpukul sakit hati seketika waktu mendengar berita itu namun seiring berjalannya waktu kabar itu hilang entah kemana.
Tama begitu serius dan tenang dalam mengerjakan soal padahal dia sangat membenci pelajaran bahasa Indonesia namun karena ini soalnya mebuat puisi yang sekaligus dijadikan lagu dia begitu cepat mengerjakannya. Bahkan sangat aneh aku yang suka dalam dunia menulis seketika semua ide yang setiap saat ada menghilang entah kemana?
“15 menit lagi!”, suara menggelegar Bu Indah membuyarkan lamunanku. Seperti biasanya beliau selalu berkeliling mengecek hasil pekerjaan siswa. Saat itu juga aku sadar bahwa kertas putih didepanku masih bersih kosong belum aku sentuh sama sekali. Aku benar-benarheran mengapa aku sama sekali tak punya ide untuk membuat puisi satu-satunya jalan yang sering aku gunakan adalah tema 'Ibu' yang entah mampir dalam benakku.
“Punyaku bagus nggak Rin?”, tanya Tama medadak. Yang entah aku kaget deg-deg gan gara-gara didepan meja guru atau malah karena dekat dengan Tama. Kali ini adalah ucapan dia untuk pertama kalinya setelah dia memutuskan secara sepihak. Setiap hari setelah hubungan kami putus dia, selalu menganggapku angin berlalu tak pernah sedikitpun ia menatapku sejak itu pula aku selalu berjalan menunduk saat berpapasan dengannya.
“Rin kamu baik-baik ajakan, kamu sakit heh?”, tanya Tama lagi sambil menyentuh keningku yang sontak membuat ku seratus kali lebih kaget dan dari sebelumnya. Aku yang masih dengan tampang watadosnya (wajah tanpa dosa) .
“Hah ,kenapa ?”, ucapku sekenanya. Masih dengan muka takjup tak percaya aku menatap wajahnya ‘Oh Tuhan hapus namanya dari memoriku’ gumamku dalam hati.”
“Ini puisi ku bagus nggak?”, tanya Tama untuk kesekian kalinya sambil menunjukkan hasil karyanya ke arahku.
“Oh puisi kamu! “Bintangku yang Hilang” judul puisi yang bagus?”, jawab ku lagi dengan senyum dan salah tingkah mungkin dia tau gerak-gerikku sekarang. Entahlah apa yang bakal Tama pikirkan yang jelas aku sangat bahagia saat ini. Tak ternilai dengan sebuah angka rasa bahagiaku, walau itu hanya dalam alam wujud tegurannya?
Wajah kami bertemu bertemu untuk sekian detik, aku dapat melihat matanya lagi sekarang dengan sorot mata tulus tidak seperti setengah tahun lalu dengan guratan wajah tegang dan emosi. Dengan cepat aku langsung mengalihkan pandangan keluar jendela dan kulirik ia langsung melanjutkan kembali pekerjaannya puisinya.
****
Aku tidur dikamarku setelah sekian waktu aku habiskan untuk menghafal kumpulan rumus Fisika yang mungkin jika dihafalkan sehari semalam tak cukup waktu, kebiasan yang aku lakukan setelah berkutat dengan buku pelajaran dengan membaca Fiction Story, Novel, ataupun Cerpen yang aku pinjam dari perpustakaan. Namun aku dari teringat kejadian tadi pagi yang mencenganggkan, kenapa sekarang aku merasa ada yang lain dengan Tama tak secuek dan acuh seperti saat hubungan kami selesai dan seolah dia sudah memaafkan kesalahanku yang entah aku sendiri tak tau Apa salahku? ‘Ah masa bodohlah aku adalah aku. Mulai saat ini aku harus bisa “Moving On”. Belum tentukan dia memeikirkan aku’, pikirku dalam renungan. Sesaat lamunanku terbuyar terdengar bunyi ponsel dari atas nakas samping ranjangku.
Drrrt.....drrrt.....drrrt.......drrrrt.....
Bunyi ponsel ku berdering, kulihat Siska calling! Dengan cepat langsung ku tekan tombol warna hijau ponsel berwarna putihku. Sempat terpikir dan berharap andaikan itu ‘Tama’. ‘Hei Aerin please jangan pikirkan dia lagi dia hanya masalalu tak perlu diingat kembali’, nasehatku sendiri dalam hati.
“Hallo Rin loe masih disitu kan, loe nggak tidurkan?”, tanya siska beruntut dengan cepat aku jauhkan telingaku dari ponsel kesayanganku.
“Please deh gue belum tidur kalee, tumben malem telpon ada apaan ada diskon besar-besaran yahh?”, jawabku sekenanya. Dia salah satu sahabatku yang tau tentang hubunganku dengan Tama.
“Eh gimana besok loe ikutan nggak acara out bound sekolah besok kita naik gunung kan bareng kumpulan anak pramuka sekolah dan Saka Bayangkara jangan bilang loe nggak denger tuh pengumuman tadi dari kepsek?”, tanya Siska bertubi-tubi.
“Apa kapan emang gue nggak denger tuh pengumuman?”, cercaku yang masih dengan tampang bingung.
“Wah pantes sejak tadi pagi loe emang ada yang nggak beres cerita kenapa loe? Oh gue tau jangan bilang loe masih mengharapkan lagi tuh anak ‘Mami’. Tapi kalau loe mau balikan sama dia sih nggak papa HAHAHAHAH?”, suara lengkingan dari telepon terdengar lagi.
Dengan waktu yang masih cukup lama aku mulai menyiakan beberapa perlengkapan untuk keperluan besok pagi. Namun aktivitas ku terhenti saat bunyi ponselku kembali memekik telingaku.
One message dari Tama Apa aku tak salah melihat, sungguh bagaikan disambar petir disiang bolong dia mengirimiku pesan setelah lama kita berakhir.
“Besok aku jemput dirumahmu jam setengah 7 soalnya tadi aku rapat dan bilang kalau kelas kita cuma bawa mobil satu dan itu nggak cukup kalau untuk menampung 32 siswa! Kamu besok ikut denganku pake motor?”, inilah isi pesan yang terpampang jelas diponselku.
Entah refleks atau kenapa tanganku dengan cepat langsung menekan tombol demi tombol ponsel putihku. “Ya aku tunggu besok dirumahku” lalu ku tekan tombol send. Tak kurang beberapa detik ia membalas lagi.
“ aku tunggu besok!”, balasan pesan singkatnya.
Pesan terakhirnya tadi benar-benar membuatku susah sekedar memejamkan mataku. Apakah yang akan terjadi besok pagi? Pertanyaan itu terus terngiang dalam benakku.
****
“Jika aku mencintaimu seperti kamu mencintaiku ku yakin aku tak bisa menempati janji untuk tidak menatapmu lagi”
****
Aku sendiri masih bingung, apa jangan-jangan telpon dari Siska tadi malam ada hubungannya dengan pesan singkat dari Tama. Hingga terlalu banyak spekulasi yang ku pikirkan tentang hal-hal yang seperrtinya mustahil. Kulihat arlojiku masih menunjukkan pukul 06.23WIB. Kupejamkan kedua bola mataku entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya, firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu hari ini. Namun apa? Hingga lamunanku terhenti terdengar suara seseorang.
“Maaf menungguku lama ya, tadi aku harus nganter ibu kekantor dulu soalnya!”, sahut Tama yang memekik lamunanku.
“Hei sejak kapan kamu disitu apa aku tadi ketiduran?”, tanyaku masih linglung namun dibalas ia hanya membalas dengan gelengan.
Dalam perjalanan menuju sekoalah pun hanya terdengar suara deruan motor dan lalu lalang kendaraan yang berseberangan. Tak ada kata yang mampu terlontar dari bibirku. Bagaikan ada penghalang keras menyumbat tenggorokan bibirku terasa kelu. Entahlah apakah kesalahan ku tempo dulu begitu menyakitkannya seolah aku tak termaafkan lagi.
Begitu kami turun dari motor, banyak pasang mata menatap tajam terutama ke arah kami , karena aku merasa risih langsung berlalu tanpa sepatah katapun dan memilih bergabung dengan Siska sahabatku.
“Ekhemm, wah Tam sepertinya ada yang terkena virus-virus Cinta Bersemi Lagi ni yeee?”, ucap langsung keluar dari bibir Andi.
****
Memang diantara sahabatku dan dia kami termasuk pasangan yang dilanggeng karena dimana ada aku disitu pula ada Tama. Saat mereka tau kami tak berhubungan lagi mereka sangat menyayangkan ‘Kenapa harus putus’. Tak hanya mereka yang menyayangkan berakhirnya hubungan kami. Yah aku masih ingat aku begitu dekat dengan ibunya Tama kebiasaan yang kami jalani selama masih pacaran, kami tak pernah menghabiskan waktu dengan kencan seperti pasangan pada umumnya yang mencari tempat sepi, menyendiri dengan berduaan. Itu adalah bukan tipe ku dengannya. Aku lebih sering kencan dengan belajar memasak dirumahnya, tentunya dengan dia karena ibunya sangat lihai dalam memasak namun ternyata sifat itu tidak menurun padanya yang dengan santainya hanya sekedar mencicipi hasilnya. Berbagai macam kue masakan pernah ku coba dan diajarkan. Percaya atau tidak aku dengannya sering menghabiskan waktu disalon hanya untuk menemani ibu. Namun dalam perbincangan kami selama disalon tentu ada kesibukan masing-masing. Aku yang sibuk dalam dunia fantasi didalam sebuah novel, dia sibuk dengan sebuah gitar yang tak bisa lepas dari tangannya. Namun kami begitu menikmati saaat itu. Aku yang sering dalam dunia pramuka dan dia juga mencintai dunia hal-hal organisasi. Tak hanya itu dia adalah pemain dramer sekaligus gitaris dengan band nya. Untuk sekedar mencoba lagu baru akulah orang pertama yang menyanyikan lagu ciptaannya. Kareana selain menyukai dunia tulis, membaca aku juga suka menyanyi. Kenanga itu begitu terpatri dalam memoriku.
Tak terasa kedua pipiku berair. ‘Tuhan untuk keesekian kalinya aku menangisinya’.
“Heh rin loe kenapa kog menyendiri gitu, mata loe juga memerah gitu kenapa diapain tadi sama Tama?”, ceocos Aisha disebelahku. Sontak aku langsung tersenyum mengalihkan hal-hal yang mungkin bisa mereka tebak.
Terlihat Tama dari Tama berdiri tampak mengalihkan pandangan tajam kearahku dan langsung kualihkan kedua mataku untuk menghindari tatapan elangnya. Aku takut jika dia bisa membaca perasaanku meski hanya menatap raut wajahku. Ingin rasanya aku berteriak ‘Mengapa aku seperti ini, mengapa terlalu sulit hatiku untuk berpaling darinya’
****
“Senyumanmu adalah hidupku ,tatapanmu adalah nafasku ,genggaman tanganmu seakan menjadi candu maka, Tersenyumlah untuk sekedar menambah pasokan udara bagiku”
****
Seperti sebelumnya dalam perjalanan kami menuju, tempat outbound dipuncak. Membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk mencapai tujuan karenan begitu sulit medan yang dilalui. Yah ini keuntungan kalau naik motor bisa melewati jalur yang pintas meski medan begitu sulit. Keheningan tampak belum berlalu, dia masih mendiamiku. Apakah semarah itu kamu marah padaku? Tak adakah secercah lubang pintu maaf untukku? Aku lebih memilih kamu bicara memakiku, memarahiku dan melampiaskan semuanya padaku. Bukan seperti ini yang kumau?
“Kamu apa kabar Rin, setelah hubungan kita berakhir kamu seolah menghindariku kenapa? Kamu takut aku akan menghajar pacar barumu?”, tanya Tama yang langsung kulihat ia tersenyum dari kaca spion depan.
Bagaikan hujan salju dimusim kemarau, ‘Apa dia tadi ngomong apa, seenak jidat aja dia ngomong selama ini siapa yang menghindar siapa yang mengacuhkan siapa yang punya pacar baru?’. Dengan rasa masih penuh dengan emosi aku mencoba tetap diam tak bergeming. Aku berusaha untuk tetap tenang dan termenung dalam diam. Aku akan mendengarkan apapun yang terlontar dari bibirnya, tanpa menyela sepatah katapun.
“Kenapa hanya diam aja, kamu nggak berusaha untuk mengelak atau menjelaskan sesuatu padaku?”
“Apa sebenarnya yang loe mau sih HAHH selama ini gue berusaha diam gue nggak tau apa-apa. Kenapa loe ngelakuin isi semua sama GUE apa salah gue, sebesar itukah aku bersalah hingga loe memutar balikkan fakta? SALAH GUE APA!!!!”
Dengan cepat dia langsung menghentikan motor yang kami naiki. Perlahan aku mulai mengatur nafas kesabaran. Terlihat dari wajahnya terbesit kebingungan mungkin ia bakal mengatakan ‘Seperti ini Rin dirimu sebenarnya?’ masa bodohlah .
Grepp........!!!!!
Dengan satu tarikan tangan cepat ia sudah menangkapku kedalam pelukannya. Hingga aku tenggelam dalam pelukannya isakkan tangiskupun pecah tak kupedulikan lagi rasa malu. Jujur ini adalah untuk pertama kalinya aku menangis dihadapannya.
“Maaf aku minta maaf apa aku terlalu menyakitimu? Aku memang menghindarimu aku sengaja tadi bicara seperti itu aku hanya ingin mendengar penjelasanmu! Hanya itu, maaf........?”
****
“Cinta adalah rasa saling memiliki tak perlu saling untuk ditutupi. Keterbukaan masing-masing hati adalah kunci. Kesetiaan, kejujuran, kasih sayang. Semua akan tumbuh jika saling memiliki dan memahami. Bukan omongan bukan rayuan bukan bualan namun perilaku itulah CINTA sesungguhnya. Tak akan pernah memandang dimana ia akan tumbuh. Pupuklah cinta semampu nafasmu masih berhembus. Mengapa? Karena cinta tak akan pernah dirasa jika kita sudah tak bernyawa”
Sudah sekitar setengah tahun ini aku tidak bertegur sapa dengannya, lebih jelasnya ketika dia memutuskan hubungan kami sepihak dan entah mengapa dia tak menjelaskan permasalahan diantara kami. Jujur aku masih sangat menyayanginya dan masih selalu memperhatikan dia. Kadang aku pernah berpikir apakah mungkin dia memutuskan hubungan gara-gara Kak Dika, dia senior kami di Osis lebih tepatnya dia menjadi Ketua bagian Bendahara Osis dan aku menjabat sebagai wakilnya. Otomatis aku sering bertemu dan bersosial dengan Kak Dika nah semenjak itulah sikap Tama mulai berubah dengan ku. Memang hanya beberapa orang saja yang mengetahui hubungan kami, mungkin hanya teman dekat ku dan teman dekatnya saja. Meskipun juga ada guru yang mengetahuinya. Mengapa aku masih menyayanginya? Dia begitu perhatian dan penyayang mungkin diantara teman satu kelas kami tak ada yang tau jika dibalik sifat cuek dan pendiamnya dia memiliki sosok mengayomi pada pasangannya. Bahkan aku bahagia saat dia memanggil namaku dengan sebutan unik, ‘Bawel’ yang inilah sebutannya padaku. Percaya atau tidak aku sangat menyukainya akupun mempunyai sebutan khusus juga untuknya! ‘Bodoh’ tidak tau kenapa aku juga suka jika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Sebaliknya, dia tak marah sama sekali aku memanggilnya dengan sebutan itu.
Namun sejak saat itulah sikapnya mulai berubah. Dia juga ikut dalam anggota Osis maka dari itu dia mulai mencari perhatian dengan kakak-kakak kelas kami cewek bahkan teman satu kelas kamipun jadi obyek pelampiasan dia. Mungkin karena alasan itulah dia memutuskan ku secara sepihak. ‘Cemburu’ memang sangat perlu dalam sebuah hubugan namun tidak dengan cara seperti ini dia harus memutuskan sesuatu tanpa permisi sebelumnya. Ini masalah hati bukan hanya sekedar candaan. Dia memang tampan banyak temanku, kakak kelas maupun adik kelas yang mengaguminya namun karena sifat dominannya dia yang cuek dan pendiam dia tak menggubris cewek yang mencoba dekat dengannya. Aku juga pernah diberi tahu Siska dia teman sebangku aku kalau Tama pernah berpacaran dengan kakak kelas entah siapa aku tak terlalu memikirkannya. Jujur aku terpukul sakit hati seketika waktu mendengar berita itu namun seiring berjalannya waktu kabar itu hilang entah kemana.
Tama begitu serius dan tenang dalam mengerjakan soal padahal dia sangat membenci pelajaran bahasa Indonesia namun karena ini soalnya mebuat puisi yang sekaligus dijadikan lagu dia begitu cepat mengerjakannya. Bahkan sangat aneh aku yang suka dalam dunia menulis seketika semua ide yang setiap saat ada menghilang entah kemana?
“15 menit lagi!”, suara menggelegar Bu Indah membuyarkan lamunanku. Seperti biasanya beliau selalu berkeliling mengecek hasil pekerjaan siswa. Saat itu juga aku sadar bahwa kertas putih didepanku masih bersih kosong belum aku sentuh sama sekali. Aku benar-benarheran mengapa aku sama sekali tak punya ide untuk membuat puisi satu-satunya jalan yang sering aku gunakan adalah tema 'Ibu' yang entah mampir dalam benakku.
“Punyaku bagus nggak Rin?”, tanya Tama medadak. Yang entah aku kaget deg-deg gan gara-gara didepan meja guru atau malah karena dekat dengan Tama. Kali ini adalah ucapan dia untuk pertama kalinya setelah dia memutuskan secara sepihak. Setiap hari setelah hubungan kami putus dia, selalu menganggapku angin berlalu tak pernah sedikitpun ia menatapku sejak itu pula aku selalu berjalan menunduk saat berpapasan dengannya.
“Rin kamu baik-baik ajakan, kamu sakit heh?”, tanya Tama lagi sambil menyentuh keningku yang sontak membuat ku seratus kali lebih kaget dan dari sebelumnya. Aku yang masih dengan tampang watadosnya (wajah tanpa dosa) .
“Hah ,kenapa ?”, ucapku sekenanya. Masih dengan muka takjup tak percaya aku menatap wajahnya ‘Oh Tuhan hapus namanya dari memoriku’ gumamku dalam hati.”
“Ini puisi ku bagus nggak?”, tanya Tama untuk kesekian kalinya sambil menunjukkan hasil karyanya ke arahku.
“Oh puisi kamu! “Bintangku yang Hilang” judul puisi yang bagus?”, jawab ku lagi dengan senyum dan salah tingkah mungkin dia tau gerak-gerikku sekarang. Entahlah apa yang bakal Tama pikirkan yang jelas aku sangat bahagia saat ini. Tak ternilai dengan sebuah angka rasa bahagiaku, walau itu hanya dalam alam wujud tegurannya?
Wajah kami bertemu bertemu untuk sekian detik, aku dapat melihat matanya lagi sekarang dengan sorot mata tulus tidak seperti setengah tahun lalu dengan guratan wajah tegang dan emosi. Dengan cepat aku langsung mengalihkan pandangan keluar jendela dan kulirik ia langsung melanjutkan kembali pekerjaannya puisinya.
****
Aku tidur dikamarku setelah sekian waktu aku habiskan untuk menghafal kumpulan rumus Fisika yang mungkin jika dihafalkan sehari semalam tak cukup waktu, kebiasan yang aku lakukan setelah berkutat dengan buku pelajaran dengan membaca Fiction Story, Novel, ataupun Cerpen yang aku pinjam dari perpustakaan. Namun aku dari teringat kejadian tadi pagi yang mencenganggkan, kenapa sekarang aku merasa ada yang lain dengan Tama tak secuek dan acuh seperti saat hubungan kami selesai dan seolah dia sudah memaafkan kesalahanku yang entah aku sendiri tak tau Apa salahku? ‘Ah masa bodohlah aku adalah aku. Mulai saat ini aku harus bisa “Moving On”. Belum tentukan dia memeikirkan aku’, pikirku dalam renungan. Sesaat lamunanku terbuyar terdengar bunyi ponsel dari atas nakas samping ranjangku.
Drrrt.....drrrt.....drrrt.......drrrrt.....
Bunyi ponsel ku berdering, kulihat Siska calling! Dengan cepat langsung ku tekan tombol warna hijau ponsel berwarna putihku. Sempat terpikir dan berharap andaikan itu ‘Tama’. ‘Hei Aerin please jangan pikirkan dia lagi dia hanya masalalu tak perlu diingat kembali’, nasehatku sendiri dalam hati.
“Hallo Rin loe masih disitu kan, loe nggak tidurkan?”, tanya siska beruntut dengan cepat aku jauhkan telingaku dari ponsel kesayanganku.
“Please deh gue belum tidur kalee, tumben malem telpon ada apaan ada diskon besar-besaran yahh?”, jawabku sekenanya. Dia salah satu sahabatku yang tau tentang hubunganku dengan Tama.
“Eh gimana besok loe ikutan nggak acara out bound sekolah besok kita naik gunung kan bareng kumpulan anak pramuka sekolah dan Saka Bayangkara jangan bilang loe nggak denger tuh pengumuman tadi dari kepsek?”, tanya Siska bertubi-tubi.
“Apa kapan emang gue nggak denger tuh pengumuman?”, cercaku yang masih dengan tampang bingung.
“Wah pantes sejak tadi pagi loe emang ada yang nggak beres cerita kenapa loe? Oh gue tau jangan bilang loe masih mengharapkan lagi tuh anak ‘Mami’. Tapi kalau loe mau balikan sama dia sih nggak papa HAHAHAHAH?”, suara lengkingan dari telepon terdengar lagi.
Dengan waktu yang masih cukup lama aku mulai menyiakan beberapa perlengkapan untuk keperluan besok pagi. Namun aktivitas ku terhenti saat bunyi ponselku kembali memekik telingaku.
One message dari Tama Apa aku tak salah melihat, sungguh bagaikan disambar petir disiang bolong dia mengirimiku pesan setelah lama kita berakhir.
“Besok aku jemput dirumahmu jam setengah 7 soalnya tadi aku rapat dan bilang kalau kelas kita cuma bawa mobil satu dan itu nggak cukup kalau untuk menampung 32 siswa! Kamu besok ikut denganku pake motor?”, inilah isi pesan yang terpampang jelas diponselku.
Entah refleks atau kenapa tanganku dengan cepat langsung menekan tombol demi tombol ponsel putihku. “Ya aku tunggu besok dirumahku” lalu ku tekan tombol send. Tak kurang beberapa detik ia membalas lagi.
“ aku tunggu besok!”, balasan pesan singkatnya.
Pesan terakhirnya tadi benar-benar membuatku susah sekedar memejamkan mataku. Apakah yang akan terjadi besok pagi? Pertanyaan itu terus terngiang dalam benakku.
****
“Jika aku mencintaimu seperti kamu mencintaiku ku yakin aku tak bisa menempati janji untuk tidak menatapmu lagi”
****
Aku sendiri masih bingung, apa jangan-jangan telpon dari Siska tadi malam ada hubungannya dengan pesan singkat dari Tama. Hingga terlalu banyak spekulasi yang ku pikirkan tentang hal-hal yang seperrtinya mustahil. Kulihat arlojiku masih menunjukkan pukul 06.23WIB. Kupejamkan kedua bola mataku entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya, firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu hari ini. Namun apa? Hingga lamunanku terhenti terdengar suara seseorang.
“Maaf menungguku lama ya, tadi aku harus nganter ibu kekantor dulu soalnya!”, sahut Tama yang memekik lamunanku.
“Hei sejak kapan kamu disitu apa aku tadi ketiduran?”, tanyaku masih linglung namun dibalas ia hanya membalas dengan gelengan.
Dalam perjalanan menuju sekoalah pun hanya terdengar suara deruan motor dan lalu lalang kendaraan yang berseberangan. Tak ada kata yang mampu terlontar dari bibirku. Bagaikan ada penghalang keras menyumbat tenggorokan bibirku terasa kelu. Entahlah apakah kesalahan ku tempo dulu begitu menyakitkannya seolah aku tak termaafkan lagi.
Begitu kami turun dari motor, banyak pasang mata menatap tajam terutama ke arah kami , karena aku merasa risih langsung berlalu tanpa sepatah katapun dan memilih bergabung dengan Siska sahabatku.
“Ekhemm, wah Tam sepertinya ada yang terkena virus-virus Cinta Bersemi Lagi ni yeee?”, ucap langsung keluar dari bibir Andi.
****
Memang diantara sahabatku dan dia kami termasuk pasangan yang dilanggeng karena dimana ada aku disitu pula ada Tama. Saat mereka tau kami tak berhubungan lagi mereka sangat menyayangkan ‘Kenapa harus putus’. Tak hanya mereka yang menyayangkan berakhirnya hubungan kami. Yah aku masih ingat aku begitu dekat dengan ibunya Tama kebiasaan yang kami jalani selama masih pacaran, kami tak pernah menghabiskan waktu dengan kencan seperti pasangan pada umumnya yang mencari tempat sepi, menyendiri dengan berduaan. Itu adalah bukan tipe ku dengannya. Aku lebih sering kencan dengan belajar memasak dirumahnya, tentunya dengan dia karena ibunya sangat lihai dalam memasak namun ternyata sifat itu tidak menurun padanya yang dengan santainya hanya sekedar mencicipi hasilnya. Berbagai macam kue masakan pernah ku coba dan diajarkan. Percaya atau tidak aku dengannya sering menghabiskan waktu disalon hanya untuk menemani ibu. Namun dalam perbincangan kami selama disalon tentu ada kesibukan masing-masing. Aku yang sibuk dalam dunia fantasi didalam sebuah novel, dia sibuk dengan sebuah gitar yang tak bisa lepas dari tangannya. Namun kami begitu menikmati saaat itu. Aku yang sering dalam dunia pramuka dan dia juga mencintai dunia hal-hal organisasi. Tak hanya itu dia adalah pemain dramer sekaligus gitaris dengan band nya. Untuk sekedar mencoba lagu baru akulah orang pertama yang menyanyikan lagu ciptaannya. Kareana selain menyukai dunia tulis, membaca aku juga suka menyanyi. Kenanga itu begitu terpatri dalam memoriku.
Tak terasa kedua pipiku berair. ‘Tuhan untuk keesekian kalinya aku menangisinya’.
“Heh rin loe kenapa kog menyendiri gitu, mata loe juga memerah gitu kenapa diapain tadi sama Tama?”, ceocos Aisha disebelahku. Sontak aku langsung tersenyum mengalihkan hal-hal yang mungkin bisa mereka tebak.
Terlihat Tama dari Tama berdiri tampak mengalihkan pandangan tajam kearahku dan langsung kualihkan kedua mataku untuk menghindari tatapan elangnya. Aku takut jika dia bisa membaca perasaanku meski hanya menatap raut wajahku. Ingin rasanya aku berteriak ‘Mengapa aku seperti ini, mengapa terlalu sulit hatiku untuk berpaling darinya’
****
“Senyumanmu adalah hidupku ,tatapanmu adalah nafasku ,genggaman tanganmu seakan menjadi candu maka, Tersenyumlah untuk sekedar menambah pasokan udara bagiku”
****
Seperti sebelumnya dalam perjalanan kami menuju, tempat outbound dipuncak. Membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk mencapai tujuan karenan begitu sulit medan yang dilalui. Yah ini keuntungan kalau naik motor bisa melewati jalur yang pintas meski medan begitu sulit. Keheningan tampak belum berlalu, dia masih mendiamiku. Apakah semarah itu kamu marah padaku? Tak adakah secercah lubang pintu maaf untukku? Aku lebih memilih kamu bicara memakiku, memarahiku dan melampiaskan semuanya padaku. Bukan seperti ini yang kumau?
“Kamu apa kabar Rin, setelah hubungan kita berakhir kamu seolah menghindariku kenapa? Kamu takut aku akan menghajar pacar barumu?”, tanya Tama yang langsung kulihat ia tersenyum dari kaca spion depan.
Bagaikan hujan salju dimusim kemarau, ‘Apa dia tadi ngomong apa, seenak jidat aja dia ngomong selama ini siapa yang menghindar siapa yang mengacuhkan siapa yang punya pacar baru?’. Dengan rasa masih penuh dengan emosi aku mencoba tetap diam tak bergeming. Aku berusaha untuk tetap tenang dan termenung dalam diam. Aku akan mendengarkan apapun yang terlontar dari bibirnya, tanpa menyela sepatah katapun.
“Kenapa hanya diam aja, kamu nggak berusaha untuk mengelak atau menjelaskan sesuatu padaku?”
“Apa sebenarnya yang loe mau sih HAHH selama ini gue berusaha diam gue nggak tau apa-apa. Kenapa loe ngelakuin isi semua sama GUE apa salah gue, sebesar itukah aku bersalah hingga loe memutar balikkan fakta? SALAH GUE APA!!!!”
Dengan cepat dia langsung menghentikan motor yang kami naiki. Perlahan aku mulai mengatur nafas kesabaran. Terlihat dari wajahnya terbesit kebingungan mungkin ia bakal mengatakan ‘Seperti ini Rin dirimu sebenarnya?’ masa bodohlah .
Grepp........!!!!!
Dengan satu tarikan tangan cepat ia sudah menangkapku kedalam pelukannya. Hingga aku tenggelam dalam pelukannya isakkan tangiskupun pecah tak kupedulikan lagi rasa malu. Jujur ini adalah untuk pertama kalinya aku menangis dihadapannya.
“Maaf aku minta maaf apa aku terlalu menyakitimu? Aku memang menghindarimu aku sengaja tadi bicara seperti itu aku hanya ingin mendengar penjelasanmu! Hanya itu, maaf........?”
****
“Cinta adalah rasa saling memiliki tak perlu saling untuk ditutupi. Keterbukaan masing-masing hati adalah kunci. Kesetiaan, kejujuran, kasih sayang. Semua akan tumbuh jika saling memiliki dan memahami. Bukan omongan bukan rayuan bukan bualan namun perilaku itulah CINTA sesungguhnya. Tak akan pernah memandang dimana ia akan tumbuh. Pupuklah cinta semampu nafasmu masih berhembus. Mengapa? Karena cinta tak akan pernah dirasa jika kita sudah tak bernyawa”