Beautiful My Dreams
21.13 Seperti biasanya hari Senin dikelasku selalu ada mata
pelajaran yang sangat memusingkan, apalagi kalau bukan bahasa indonesia.
Pelajaran yang sangat aku benci dan teman-teman satu kelas. Yang
berminat untuk mempelajarinya pun mungkin hanya satu atau dua orang
saja. Bu Indah adalah guru bahasa indonesia kelas 3 yang terkenal dengan
sadis, galak ,kejam, protetif, ketat, disiplin semua aspek guru tegas
ada pada beliau. Seperti biasanya jika kami ulangan harus wajib menurut
apa kata beliau. Bu indah sering mengatur tempat duduk jika saat ulangan
tiba, seperti saat ini pula. Bagaimana aku tidak shok kaget mendadak
aku harus duduk satu bangku didepan meja guru dengan Tama!
Sudah sekitar setengah tahun ini aku tidak bertegur sapa dengannya,
lebih jelasnya ketika dia memutuskan hubungan kami sepihak dan entah
mengapa dia tak menjelaskan permasalahan diantara kami. Jujur aku masih
sangat menyayanginya dan masih selalu memperhatikan dia. Kadang aku
pernah berpikir apakah mungkin dia memutuskan hubungan gara-gara Kak
Dika, dia senior kami di Osis lebih tepatnya dia menjadi Ketua bagian
Bendahara Osis dan aku menjabat sebagai wakilnya. Otomatis aku sering
bertemu dan bersosial dengan Kak Dika nah semenjak itulah sikap Tama
mulai berubah dengan ku. Memang hanya beberapa orang saja yang
mengetahui hubungan kami, mungkin hanya teman dekat ku dan teman
dekatnya saja. Meskipun juga ada guru yang mengetahuinya. Mengapa aku
masih menyayanginya? Dia begitu perhatian dan penyayang mungkin diantara
teman satu kelas kami tak ada yang tau jika dibalik sifat cuek dan
pendiamnya dia memiliki sosok mengayomi pada pasangannya. Bahkan aku
bahagia saat dia memanggil namaku dengan sebutan unik, ‘Bawel’ yang
inilah sebutannya padaku. Percaya atau tidak aku sangat menyukainya
akupun mempunyai sebutan khusus juga untuknya! ‘Bodoh’ tidak tau kenapa
aku juga suka jika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Sebaliknya, dia
tak marah sama sekali aku memanggilnya dengan sebutan itu.
Namun sejak saat itulah sikapnya mulai berubah. Dia juga ikut dalam
anggota Osis maka dari itu dia mulai mencari perhatian dengan
kakak-kakak kelas kami cewek bahkan teman satu kelas kamipun jadi obyek
pelampiasan dia. Mungkin karena alasan itulah dia memutuskan ku secara
sepihak. ‘Cemburu’ memang sangat perlu dalam sebuah hubugan namun tidak
dengan cara seperti ini dia harus memutuskan sesuatu tanpa permisi
sebelumnya. Ini masalah hati bukan hanya sekedar candaan. Dia memang
tampan banyak temanku, kakak kelas maupun adik kelas yang mengaguminya
namun karena sifat dominannya dia yang cuek dan pendiam dia tak
menggubris cewek yang mencoba dekat dengannya. Aku juga pernah diberi
tahu Siska dia teman sebangku aku kalau Tama pernah berpacaran dengan
kakak kelas entah siapa aku tak terlalu memikirkannya. Jujur aku
terpukul sakit hati seketika waktu mendengar berita itu namun seiring
berjalannya waktu kabar itu hilang entah kemana.
Tama begitu serius dan tenang dalam mengerjakan soal padahal dia sangat
membenci pelajaran bahasa Indonesia namun karena ini soalnya mebuat
puisi yang sekaligus dijadikan lagu dia begitu cepat mengerjakannya.
Bahkan sangat aneh aku yang suka dalam dunia menulis seketika semua ide
yang setiap saat ada menghilang entah kemana?
“15 menit lagi!”, suara
menggelegar Bu Indah membuyarkan lamunanku. Seperti biasanya beliau
selalu berkeliling mengecek hasil pekerjaan siswa. Saat itu juga aku
sadar bahwa kertas putih didepanku masih bersih kosong belum aku sentuh
sama sekali. Aku benar-benarheran mengapa aku sama sekali tak punya ide
untuk membuat puisi satu-satunya jalan yang sering aku gunakan adalah
tema 'Ibu' yang entah mampir dalam benakku.
“Punyaku bagus nggak Rin?”,
tanya Tama medadak. Yang entah aku kaget deg-deg gan gara-gara didepan
meja guru atau malah karena dekat dengan Tama. Kali ini adalah ucapan
dia untuk pertama kalinya setelah dia memutuskan secara sepihak. Setiap
hari setelah hubungan kami putus dia, selalu menganggapku angin berlalu
tak pernah sedikitpun ia menatapku sejak itu pula aku selalu berjalan
menunduk saat berpapasan dengannya.
“Rin kamu baik-baik ajakan, kamu sakit heh?”,
tanya Tama lagi sambil menyentuh keningku yang sontak membuat ku
seratus kali lebih kaget dan dari sebelumnya. Aku yang masih dengan
tampang watadosnya (wajah tanpa dosa) .
“Hah ,kenapa ?”,
ucapku sekenanya. Masih dengan muka takjup tak percaya aku menatap
wajahnya ‘Oh Tuhan hapus namanya dari memoriku’ gumamku dalam hati.”
“Ini puisi ku bagus nggak?”, tanya Tama untuk kesekian kalinya sambil menunjukkan hasil karyanya ke arahku.
“Oh puisi kamu! “Bintangku yang Hilang” judul puisi yang bagus?”,
jawab ku lagi dengan senyum dan salah tingkah mungkin dia tau
gerak-gerikku sekarang. Entahlah apa yang bakal Tama pikirkan yang jelas
aku sangat bahagia saat ini. Tak ternilai dengan sebuah angka rasa
bahagiaku, walau itu hanya dalam alam wujud tegurannya?
Wajah kami bertemu bertemu untuk sekian detik, aku dapat melihat
matanya lagi sekarang dengan sorot mata tulus tidak seperti setengah
tahun lalu dengan guratan wajah tegang dan emosi. Dengan cepat aku
langsung mengalihkan pandangan keluar jendela dan kulirik ia langsung
melanjutkan kembali pekerjaannya puisinya.
****
Aku tidur dikamarku setelah sekian waktu aku habiskan untuk menghafal
kumpulan rumus Fisika yang mungkin jika dihafalkan sehari semalam tak
cukup waktu, kebiasan yang aku lakukan setelah berkutat dengan buku
pelajaran dengan membaca Fiction Story, Novel, ataupun Cerpen yang aku
pinjam dari perpustakaan. Namun aku dari teringat kejadian tadi pagi
yang mencenganggkan, kenapa sekarang aku merasa ada yang lain dengan
Tama tak secuek dan acuh seperti saat hubungan kami selesai dan seolah
dia sudah memaafkan kesalahanku yang entah aku sendiri tak tau Apa
salahku? ‘Ah masa bodohlah aku adalah aku. Mulai saat ini aku harus bisa “Moving On”.
Belum tentukan dia memeikirkan aku’, pikirku dalam renungan. Sesaat
lamunanku terbuyar terdengar bunyi ponsel dari atas nakas samping
ranjangku.
Drrrt.....drrrt.....drrrt.......drrrrt.....
Bunyi ponsel ku berdering, kulihat Siska calling! Dengan cepat langsung
ku tekan tombol warna hijau ponsel berwarna putihku. Sempat terpikir
dan berharap andaikan itu ‘Tama’. ‘Hei Aerin please jangan pikirkan dia lagi dia hanya masalalu tak perlu diingat kembali’, nasehatku sendiri dalam hati.
“Hallo Rin loe masih disitu kan, loe nggak tidurkan?”, tanya siska beruntut dengan cepat aku jauhkan telingaku dari ponsel kesayanganku.
“Please deh gue belum tidur kalee, tumben malem telpon ada apaan ada diskon besar-besaran yahh?”, jawabku sekenanya. Dia salah satu sahabatku yang tau tentang hubunganku dengan Tama.
“Eh gimana besok loe ikutan nggak acara out bound sekolah besok kita
naik gunung kan bareng kumpulan anak pramuka sekolah dan Saka Bayangkara
jangan bilang loe nggak denger tuh pengumuman tadi dari kepsek?”, tanya Siska bertubi-tubi.
“Apa kapan emang gue nggak denger tuh pengumuman?”, cercaku yang masih dengan tampang bingung.
“Wah
pantes sejak tadi pagi loe emang ada yang nggak beres cerita kenapa
loe? Oh gue tau jangan bilang loe masih mengharapkan lagi tuh anak
‘Mami’. Tapi kalau loe mau balikan sama dia sih nggak papa HAHAHAHAH?”, suara lengkingan dari telepon terdengar lagi.
Dengan waktu yang masih cukup lama aku mulai menyiakan beberapa
perlengkapan untuk keperluan besok pagi. Namun aktivitas ku terhenti
saat bunyi ponselku kembali memekik telingaku.
One message dari Tama Apa aku tak salah melihat, sungguh bagaikan
disambar petir disiang bolong dia mengirimiku pesan setelah lama kita
berakhir.
“Besok aku jemput dirumahmu jam
setengah 7 soalnya tadi aku rapat dan bilang kalau kelas kita cuma bawa
mobil satu dan itu nggak cukup kalau untuk menampung 32 siswa! Kamu
besok ikut denganku pake motor?”, inilah isi pesan yang terpampang jelas diponselku.
Entah refleks atau kenapa tanganku dengan cepat langsung menekan tombol
demi tombol ponsel putihku. “Ya aku tunggu besok dirumahku” lalu ku
tekan tombol send. Tak kurang beberapa detik ia membalas lagi.
“ aku tunggu besok!”, balasan pesan singkatnya.
Pesan terakhirnya tadi benar-benar membuatku susah sekedar memejamkan
mataku. Apakah yang akan terjadi besok pagi? Pertanyaan itu terus
terngiang dalam benakku.
****
“Jika aku mencintaimu seperti kamu mencintaiku ku yakin aku tak bisa menempati janji untuk tidak menatapmu lagi”
****
Aku sendiri masih bingung, apa jangan-jangan telpon dari Siska tadi
malam ada hubungannya dengan pesan singkat dari Tama. Hingga terlalu
banyak spekulasi yang ku pikirkan tentang hal-hal yang seperrtinya
mustahil. Kulihat arlojiku masih menunjukkan pukul 06.23WIB. Kupejamkan
kedua bola mataku entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya, firasatku
mengatakan akan terjadi sesuatu hari ini. Namun apa? Hingga lamunanku
terhenti terdengar suara seseorang.
“Maaf menungguku lama ya, tadi aku harus nganter ibu kekantor dulu soalnya!”, sahut Tama yang memekik lamunanku.
“Hei sejak kapan kamu disitu apa aku tadi ketiduran?”, tanyaku masih linglung namun dibalas ia hanya membalas dengan gelengan.
Dalam perjalanan menuju sekoalah pun hanya terdengar suara deruan motor
dan lalu lalang kendaraan yang berseberangan. Tak ada kata yang mampu
terlontar dari bibirku. Bagaikan ada penghalang keras menyumbat
tenggorokan bibirku terasa kelu. Entahlah apakah kesalahan ku tempo dulu
begitu menyakitkannya seolah aku tak termaafkan lagi.
Begitu kami turun dari motor, banyak pasang mata menatap tajam terutama
ke arah kami , karena aku merasa risih langsung berlalu tanpa sepatah
katapun dan memilih bergabung dengan Siska sahabatku.
“Ekhemm, wah Tam sepertinya ada yang terkena virus-virus Cinta Bersemi Lagi ni yeee?”, ucap langsung keluar dari bibir Andi.
****
Memang diantara sahabatku dan dia kami termasuk pasangan yang
dilanggeng karena dimana ada aku disitu pula ada Tama. Saat mereka tau
kami tak berhubungan lagi mereka sangat menyayangkan ‘Kenapa harus
putus’. Tak hanya mereka yang menyayangkan berakhirnya hubungan kami.
Yah aku masih ingat aku begitu dekat dengan ibunya Tama kebiasaan yang
kami jalani selama masih pacaran, kami tak pernah menghabiskan waktu
dengan kencan seperti pasangan pada umumnya yang mencari tempat sepi,
menyendiri dengan berduaan. Itu adalah bukan tipe ku dengannya. Aku
lebih sering kencan dengan belajar memasak dirumahnya, tentunya dengan
dia karena ibunya sangat lihai dalam memasak namun ternyata sifat itu
tidak menurun padanya yang dengan santainya hanya sekedar mencicipi
hasilnya. Berbagai macam kue masakan pernah ku coba dan diajarkan.
Percaya atau tidak aku dengannya sering menghabiskan waktu disalon hanya
untuk menemani ibu. Namun dalam perbincangan kami selama disalon tentu
ada kesibukan masing-masing. Aku yang sibuk dalam dunia fantasi didalam
sebuah novel, dia sibuk dengan sebuah gitar yang tak bisa lepas dari
tangannya. Namun kami begitu menikmati saaat itu. Aku yang sering dalam
dunia pramuka dan dia juga mencintai dunia hal-hal organisasi. Tak hanya
itu dia adalah pemain dramer sekaligus gitaris dengan band nya. Untuk
sekedar mencoba lagu baru akulah orang pertama yang menyanyikan lagu
ciptaannya. Kareana selain menyukai dunia tulis, membaca aku juga suka
menyanyi. Kenanga itu begitu terpatri dalam memoriku.
Tak terasa kedua pipiku berair. ‘Tuhan untuk keesekian kalinya aku menangisinya’.
“Heh rin loe kenapa kog menyendiri gitu, mata loe juga memerah gitu kenapa diapain tadi sama Tama?”, ceocos Aisha disebelahku. Sontak aku langsung tersenyum mengalihkan hal-hal yang mungkin bisa mereka tebak.
Terlihat Tama dari Tama berdiri tampak mengalihkan pandangan tajam
kearahku dan langsung kualihkan kedua mataku untuk menghindari tatapan
elangnya. Aku takut jika dia bisa membaca perasaanku meski hanya menatap
raut wajahku. Ingin rasanya aku berteriak ‘Mengapa aku seperti ini, mengapa terlalu sulit hatiku untuk berpaling darinya’
****
“Senyumanmu
adalah hidupku ,tatapanmu adalah nafasku ,genggaman tanganmu seakan
menjadi candu maka, Tersenyumlah untuk sekedar menambah pasokan udara
bagiku”
****
Seperti sebelumnya dalam perjalanan kami menuju, tempat outbound
dipuncak. Membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk mencapai tujuan
karenan begitu sulit medan yang dilalui. Yah ini keuntungan kalau naik
motor bisa melewati jalur yang pintas meski medan begitu sulit.
Keheningan tampak belum berlalu, dia masih mendiamiku. Apakah semarah
itu kamu marah padaku? Tak adakah secercah lubang pintu maaf untukku?
Aku lebih memilih kamu bicara memakiku, memarahiku dan melampiaskan
semuanya padaku. Bukan seperti ini yang kumau?
“Kamu
apa kabar Rin, setelah hubungan kita berakhir kamu seolah menghindariku
kenapa? Kamu takut aku akan menghajar pacar barumu?”, tanya Tama yang langsung kulihat ia tersenyum dari kaca spion depan.
Bagaikan hujan salju dimusim kemarau, ‘Apa
dia tadi ngomong apa, seenak jidat aja dia ngomong selama ini siapa
yang menghindar siapa yang mengacuhkan siapa yang punya pacar baru?’.
Dengan rasa masih penuh dengan emosi aku mencoba tetap diam tak
bergeming. Aku berusaha untuk tetap tenang dan termenung dalam diam. Aku
akan mendengarkan apapun yang terlontar dari bibirnya, tanpa menyela
sepatah katapun.
“Kenapa hanya diam aja, kamu nggak berusaha untuk mengelak atau menjelaskan sesuatu padaku?”
“Apa sebenarnya yang loe mau sih HAHH selama ini gue berusaha diam gue
nggak tau apa-apa. Kenapa loe ngelakuin isi semua sama GUE apa salah
gue, sebesar itukah aku bersalah hingga loe memutar balikkan fakta?
SALAH GUE APA!!!!”
Dengan cepat
dia langsung menghentikan motor yang kami naiki. Perlahan aku mulai
mengatur nafas kesabaran. Terlihat dari wajahnya terbesit kebingungan
mungkin ia bakal mengatakan ‘Seperti ini Rin dirimu sebenarnya?’ masa bodohlah .
Grepp........!!!!!
Dengan satu tarikan tangan cepat ia sudah menangkapku kedalam
pelukannya. Hingga aku tenggelam dalam pelukannya isakkan tangiskupun
pecah tak kupedulikan lagi rasa malu. Jujur ini adalah untuk pertama
kalinya aku menangis dihadapannya.
“Maaf aku
minta maaf apa aku terlalu menyakitimu? Aku memang menghindarimu aku
sengaja tadi bicara seperti itu aku hanya ingin mendengar penjelasanmu!
Hanya itu, maaf........?”
****
“Cinta adalah rasa saling memiliki tak perlu saling untuk ditutupi.
Keterbukaan masing-masing hati adalah kunci. Kesetiaan, kejujuran, kasih
sayang. Semua akan tumbuh jika saling memiliki dan memahami. Bukan
omongan bukan rayuan bukan bualan namun perilaku itulah CINTA
sesungguhnya. Tak akan pernah memandang dimana ia akan tumbuh. Pupuklah
cinta semampu nafasmu masih berhembus. Mengapa? Karena cinta tak akan
pernah dirasa jika kita sudah tak bernyawa”
0 komentar